Reformasi Pendidikan dalam Tantangan Modernitas
Bangsa kita tidak saja dihadapkan kepada masalah-masalah internal, tetapi juga tantangan eksternal untuk dapat terus mengiringi kemajuan zaman. Reformasi (pembaharuan) yang diinginkan hendaklah memiliki orientasi yang jelas. Bukan dengan menggunakan politik tambal sulam yang selama ini sering diperankan oleh siapa saja yang menjadi menteri pendidikan. Sehingga berkibat compang-campingnya pendidikan Indonesia. Berikut ini ada beberapa ide yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam mereformasi pendidikan Indonesia.
1. Pohon pendidikan bukan jenjang pendidikan
Dalam dunia pendidikan kita mendengar istilah jenjang pendidikan (Educational Ladder) yaitu tangga atau tingkat yang harus dilalui seseorang dalam menggeluti pendidikan secara berturut-turut. Sistem ini memiliki permulaan yang terbatas, kemudian lanjutan yang terbatas dan ujung yang terbatas juga. Contohnya mulai dari SD, kemudian SMP, SMU, selanjutnya fakultas tekhnik di perkuliahan dan seterusnya. Untuk mengikuti tuntutan zaman sistem ini sudah semestinya diganti dengan sistem yang lebih fleksibel dan membuka peluang untuk selalu maju dan berkembang. Sistem yang cocok sebagai alternatif adalah sistem Pohon Pendidikan (Educational Tree). Sesuai dengan namanya sistem ini seperti sebuah pohon yang memiliki beberapa unsur yang menjadikannya layak dikatakan sebagai sebuah pohon yang rindang dan berdiri kokoh diatas tanah yang kuat. Unsur tersebut adalah:
1. Tanah yang subur
2. Batang pohon yang kokoh dan menghujam jauh ke dalam tanah
3. Cabang pohon yang bisa tumbuh di mana saja dan dalam jumlah yang tidak terbatas.
4. Dahan dan ranting yang juga dapat tumbuh di bagian mana saja dari pohon.
Pengertiannya adalah sebatang pohon pendidikan memiliki hubungan yang sangat kuat dan erat dengan tanah, kemudian dapat terus tumbuh dan berkembang tanpa batas yang berarti pertumbuhan yang berkesinambungan yang selalu tumbuh dan bergerak secara dinamis tak ubahnya seperti makhluk hidup, dan ia terdiri dari batang yang satu yaitu pendidikan dasar yang harus dilalui oleh setiap orang, kemudian terdiri dari cabang dan ranting yang banyak sekali yang memungkinkan bagi siapa saja untuk bergantung di cabang dan ranting tersebut sesuai dengan kemampuan dan kecenderungan yang dimiliki, kemudian ia memiliki keistimewaan peluang yang tak terhingga untuk tumbuh dan berkembang, dalam waktu yang sama juga terbuka peluang untuk pindah dari satu cabang kecabang yang lain dan dari satu ranting ke ranting yang lain tanpa batasan umur dan tan pa memandang latar belakang pendidikan sebelumnya.
2. Integral bukan parsial
Pembaharuan yang diharapkan hendaklah pembaharuan yang integral bukan parsial. Karena pembaharuan parsial tidak ubahnya dengan tambal sulam, akibatnya pendidikan Indonesia menjadi compang-camping. Oleh sebab itu pembaharuan harus mencakup semua segi pendidikan, baik dari segi tujuan pendidikan, kurikulum dan mata pelajaran, teknis dan metode serta srategi pengajaran, sarana dan fasilitas pendidikan, sistem evaluasi dan lain sebagainya
3. Kerja bukan teori
Pembaharuan pendidikan harus mengarah kepada pembentukan tenaga-tenaga terampil yang siap pakai dalam berbagai disiplin ilmu. Target ini menghendaki adanya kolerasi antara apa yang dipelajari di bangku perkuliahan dengan kenyataan yang ada di lapangan kerja. Kalau perlu setiap perusahaan besar (BUMN misalnya) seharusnya membuat SLTA dan perkuliahan tersendiri yang mampu melahirkan tenaga-tenaga terampil di perusahaan tersebut. Sehingga betul-betul ada jalinan yang kuat antara pendidikan dan kerja.
4. Mengurangi tekanan internal dan eksternal
Pendidikan seharusnya terbebas dari tekanan-tekanan internal dan eksternal, agar pendidikan betul-betul untuk mendidik dan untuk mencerdaskan bangsa. Bukan untuk kemaslahatan pihak-pihak tertentu ataupun untuk kepentingan penguasa. Dengan kebebasan pendidikan dari segala tekanan luar dan dalam, persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud. Karena rakyatnya memiliki tingkat ilmu pengetahuan yang hampir sama dan merata, sehingga tidak ada satu pihakpun mampu mengelabui pihak lain yang lebih bodoh.
5. Prioritas skill pendidikan
Apabila ingin menjadi guru atau dosen maka hendaklah lebih dulu mempelajari ilmu-ilmu pendidikan. Ide ini dapat direalisasikan dengan membuka diploma pendidikan, sekurang-kurangnya satu tahun dan selama-lamanya dua tahun. Setiap sarjana S1 yang akan mengajar di SLTA misalnya harus mengambil diploma pendidikan satu tahun. Dan yang akan menjadi dosen harus mengambil diploma dua tahun. Dengan cara ini tingkat kemahiran dan wawasan seorang guru dalam mengajar dapat ditingkatkan dan selanjutnya prestasi siswa/mahasiswanya juga akan lebih baik.
6. Perbaikan status sosial guru
Di Indonesia gaji guru di tingkat SD, SLTP dan SLTA sangatlah minim dibandingkan dengan seorang dosen. Padahal tugas dan usaha yang harus mereka lakukan lebih urgen. Karena dari peran merekalah diharapkan lahirnya warga negara yang berloyalitas tinggi kepada bangsa dan negara, berkemauan keras untuk maju. Dan pada hakekatnya merekalah yang menjadi batang pohon. Sementara pendidikan di tingkat universitas adlah dahan dan ranting. Apabila dahan dan ranting patah, pohon masih akan berpeluang untuk hidup. Tapi apabila batangnya yang patah dan keropos maka pohon akan mati dan dahan beserta rantingnya tidak akan dapat berbuat apa-apa.
THANK’S FOR YOUR ATTENTION
Pages
About Me
Total Tayangan Halaman
Pengikut
bagaimana blog ini?
Minggu, 01 Mei 2011
News Education 1
Diposting oleh
Indahnya Kebersamaan
di
05.40
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar