Pages

Sabtu, 19 Mei 2012

Mata Ayah - Cerita Inspirasi


Cerita ini berawal di sebuah sudut kota Bali. Disana ada seorang remaja, sebut saja namanya Den. Di rumah, Den cuma hidup dengan ayahnya. Kakak-kakak Den sudah menikah dan tidak tinggal di rumahnya lagi. Den adalah seorang siswa kelas 2 SMP. Den juga suka bermain sepak bola. Ia sangat menyukai olah raga itu. Den cukup aktif di dalam klub sepak bola di kotanya. Den mendapat dukungan yang sangat kuat dari ayahnya akan hobinya tersebut.
Den berlatih sepak bola dengan timnya tiga kali seminggu. Sesekali timnya juga mengikuti beberapa kompetisi dan beberapa kali pernah menang. Seperti kali ini, timnya sedang mengikuti sebuah kejuaraan sepak bola yang cukup bergengsi. Pertandingan demi pertandingan dilalui dengan lancar hingga membawa tim tersebut ke babak grand final yang akan diselenggarakan  hari sabtu nanti.
Tetapi pada hari Selasa, sebuah berita duka terjadi. Ayah Den meninggal dunia. Dengan menyesal Den meminta ijin pelatihnya bahwa dia tidak bisa datang latihan hari ini. Sang pelatih pun memahami keadaan tersebut. Bahkan sang pelatih juga menyarankan Den untuk beristirahat sejenak. “Jika berkeberatan, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti pertandingan final besok Sabtu. Tenangkan dirimu dulu, kami akan selalu menunggu kehadiranmu kembali.” Kata pelatih itu.
Pertandingan grand final hari Sabtu pun tiba. Penonton tampak berjubel di tribun lapangan. Kesebelasan Den tampak sangat terdesak oleh tim lawan. Skor saat ini menunjukkan 2-0 untuk tim lawan. Padahal pertandingan sudah berlangsung 20 menit pada babak ke dua.
Tiba-tiba Den menampakkan diri di pinggir lapangan. Tanpa banyak tanya ia langsung ganti baju, memakai sepatu, dan melakukan sedikit pemanasan dengan bola kesayangannya di pinggir lapangan. Pelatih dan rekan-rekan timnya heran dan terkejut melihat hal ini. “Ijinkan saya ikut bertanding pak!” Seru Den pada pelatihnya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya pelatih itu mengijinkan Den masuk ke tengah lapangan.
Hal yang mengejutkan terjadi. Entah bagaimana, permainan Den pada malam itu sangat cemerlang. Ia seperti tidak memiliki rasa lelah untuk berlari, merebut, dan menendang bola di menit-menit terakhir itu. Tenaga rekan-rekan satu timnya yang mulai terkuras habis pun menjadi bangkit melihat semangat Den.
Tak diduga, malam itu Den berhasil memasukkan tiga bola ke gawang lawan. Sebuah lompatan tersendiri bagi prestasi Den di timnya selama ini. Sebab selama ini Den jarang memasukkan bola ke gawang lawan, sekalipun beberapa kali pernah ditempatkan pelatih pada posisi striker seperti pada pertandingan malam ini. Akhirnya pertandingan pun selesai. Kesebelasan Den menang dari tim lawan dengan skor 2-3.
“Ada apa kamu, Den? Aku belum pernah melihatmu sehebat ini! Motivasi dan tenagamu malam ini sangat cemerlang!” Seru pelatih dengan bangga.
“Tahukah, pak? bahwa selama ini Ayah sangat mendukung permainan sepak bola saya. Bahkan ia selalu berharap kelak saya bisa menjadi seorang bintang sepak bola.” Kata Den sambil terengah-engah.
“Tahukah pula, Pak. Kalau Ayah saya buta? memang selama ini dia selalu duduk di antara penonton untuk mengikuti setiap pertandingan saya, tetapi seumur hidup dia belum pernah benar-benar melihat saya bertanding!”
Den melanjutkan, “Dan malam ini adalah kali pertama Ayah benar-benar melihat saya bertanding, saya ingin menunjukkan kepada dia, bahwa saya memang pantas untuk dilihat oleh dia.”


Kamis, 17 Mei 2012

Sebuah Cerita Inspirasi utk Pendidikan Indonesia "Pelajar Teladan"




Untuk direnungkan....
Ini juga berguna bagi pendidikan di Indonesia
 


Quote:
Ada seorang pelajar teladan, telah menjuarai banyak olimpiade pelajar, tak heran begitu banyaknya medali dan trofi yang tersimpan diruang pialanya. Adapun ia sekarang duduk dibangku perkuliahan, diadakanlah tes seleksi beasiswa penuh di Universitas terkemuka diluar negeri. Iapun optimis pasti mendapatkannya.

Pada saat tes potensi akademik, ia meraih nilai paling tertinggi diantara yang lain. Kemudian dilanjutkan dihari kedua, yaitu tes interview.

Interviewer :"Apakah yang membuat anda optimis mendapatkan beasiswa ini?"

Pelajar:" Saya pernah mengikuti dan memenangkan banyak penghargaan di Olimpiade dari tingkat umum hingga internasional"


Interviewer :"Adakah yang lain?"

Pelajar:" Oh iya, saya selalu rangking 1 dikelas serta menjadi juara umum disekolah saya, adapun IP sekarang 4.0"

Interviewer :"Adakah yang lain?" 

Pelajar:" Baiklah, saya telah menguasai konsep fisika modern serta kalkulus dari sejak umur 10 tahun"


Interviewer:"Adakah yang lain?" 

Pelajar:" Cukup, ini saja"

Interviewer:"Baiklah, terimakasih mau berpatisipasi dalam interview sesi ini" 

Pada hari pengumuman, ia sangat kecewa karena tidak mendapati namanya dalam penerima beasiswa tersebut. Iapun tanpa segan2 mendatangi sang interviewer.

Pelajar:"Bapak! Mengapa saya tidak mendapatkan beasiswa tersebut?!!"

Interviewer:"Ada orang yang lebih baik mendapatkannya"


Pelajar:"Adakah orang itu memenangkan banyak olimpiade dibandingkan saya??!! Ataukah dia pelajar yang ekonominya kurang mampu sehingga bapak mengasihaninya??!!"

Dengan senyum ia menjawab...

Interviewer:
"Anda telah memenangkan banyak olimpiade dan banyak penghargaan, tidakkah anda juga memberi kesempatan orang lain menang? Dan sekarang dihadapan saya ada seorang ambisius yang marah karena keegoisannya tak terpenuhi!"

Quote : 
Jangan biarkan demi pengetahuan moral diabaikan.
Jangan biarkan demi naik ke puncak, menginjak yang dibawah.
Jayalah pendidikan di Indonesia! 


sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8338146

Nyanyian yang mengejutkan penonton

Rabu, 16 Mei 2012

SUSUNAN KABINET BEM FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA PERIODE 2011/2012



PRESIDEN : ITA NAFIDZATUL HUSNA (VI)
SEKJEND : FEBRIANA MUASYIQOH (VI)
BENDAHARA : FAFIKA HIKMATUL MAULA (IV)

DEPARTEMEN-DEPARTEMEN
DEPARTEMEN DALAM NEGERI
MENTERI : MIMI JAMILAH (VI)
STAF       : NURAIDA FITRI FAUZIAH (VI)
               : NUR IZZAH (IV)
               : FAUZIAH USWANAS (IV)
               : RIF’AH KARLOS (II)
DEPARTEMEN LUAR NEGERI
MENTERI : URI SAFITRI (VI)
STAF       : NURLELA OHORELA (VI)
               : RATU KHAIRANI SYARITA (VI)
               : SALWA FAKHRIANI (IV)
               : ZIAN ULF HAQ NISAUL ALAMIN (II)

Sabtu, 12 Mei 2012

JIKA MASA GOLDEN AGE TERABAIKAN



Otak adalah karunia yang luar biasa dari Sang Pencipta, karena otaklah yang mengatur dan menjadi pusat kendali dalam kehidupan. Otak pula yang menentukan cara berpikir, perasaan, tingkah laku, dan kemampuan seseorang dalam bersosialisasi.

Begitu hebatnya fungsi otak, tak heran bila banyak orang tua berharap anaknya memiliki otak yang cerdas. Untuk mencapai itu, banyak cara yang kemudian diupayakan oleh orang tua, karena kecerdasan memang dapat dikembangkan.

Untuk memaksimalkan perkembangan otak anak, orang tua hendaknya cermat mengamati perkembangannya. Ada masa-masa tertentu dimana otak sedang sangat peka. "Ibaratnya ada jendela-jendela yang sedang terbuka yang siap menerima rangsangan sehingga perkembangan yang diharapkan dapat maksimal. Semakin kaya rangsangan, semakin besar kesempatan anak untuk meningkatkan kecerdasannya,'' ujar Ery Soekresno, Psi.

Untuk mengoptimalkan perkembangan kecerdasan anak, diperlukan lingkungan yang kaya akan rangsangan. Yang perlu diperhatikan, lingkungan ini sebaiknya memberikan lebih sedikit tema tapi masing-masing rangsangan diberikan secara lebih dalam. Jadi bukan dengan banyak memberikan tema.

Tak hanya rangsangan yang tepat yang dibutuhkan dalam perkembangan kecerdasan anak, tapi juga emosi. Emosi memiliki pengaruh yang kuat pada perkembangan otak dan belajar.

AKIBAT DIABAIKAN

Otak bekerja sesuai irama yang ada pada masing-masing tubuh anak. Jadi, tak perlu heran bila tiap anak baru dapat berjalan dan berbicara dalam waktu yang berbeda. Demikian pula dengan kemampuan membaca, menulis dan berhitung.

Hanya saja yang patut diperhatikan adalah masa-masa dimana otak sangat peka untuk berkembang secara optimal atau yang disebut golden age. Inilah yang juga kerap disebut sebagai masa kritis atau masa-masa peka.

Bila pada masa-masa kritis tersebut Bapak dan Ibu kurang memberikan rangsangan yang optimal untuk perkembangan anak, maka akan merugi. Misalnya, kata Ery, jika anak tidak didendangkan pada usia 0­3 tahun, maka lewat dari usia 3 tahun anak akan susah menangkap nada. Bahkan mungkin kalau bernyanyi akan fals. "Jadi yang lebih baik adalah kalau kita mengajarkan sesuatu pada periode dimana jendela di otaknya masih terbuka maka hasilnya akan lebih maksimal,'' tambahnya.

Contoh lainnya, usia 3 sampai 12 tahun adalah masa yang tepat untuk mengajak anak belajar bahasa asing. Pada saat ini, jendela di otak anak sedang terbuka untuk kemampuan itu. Bila ini dimanfaatkan, maka anak dapat sefasih native speaker-nya.

Kalaupun belajar bahasa asing dilakukan setelah masa akil balig, motivasi anak harus lebih kuat dan usahanya pun harus lebih keras. Jika sebelum usia akil balig pelajaran bahasa asing sudah sempat diberikan walau hasilnya belum lancar, itu sudah cukup menguntungkan. Minimal jejak-jejaknya sudah ada. Namun, apa pun stimulasi berupa pengetahuan yang sudah diberikan tetap butuh pengulangan di usia 12­13. Bila tidak pengetahuan itu akan hilang karena sel otak memang butuh pengulangan stimulasi untuk menyegarkan memori.

BERBAGAI MASA KRITIS
Masa peka golden age berkembang di setiap tahapan usia. Inilah perinciannya:

Pengalaman Masa Peka Tertentu
Masa Peka
1. Ikatan hati 0 ­ 18 bulan 2. Keterampilan motorik prenatal hingga 4 tahun 3. Berbicara dan kosakata 0 3 tahun 4. Matematika dan logika 1 ­ 4 tahun 5. Nada 3 ­ 12 tahun 6. Bahasa asing 3 ­ 12 tahun

CONTOH KOREKSI
Sayangnya masa kritis tersebut belumlah banyak diketahui dan dimengerti oleh para orang tua. Akibatnya, rangsangan-rangsangan yang dapat mengembangkan berbagai kecerdasan anak tidak diberikan secara optimal.

Nah, tidak maksimalnya perkembangan anak akibat terlewatnya stimulasi di masa kritis umumnya baru dapat teridentifikasi setelah anak memasuki jenjang sekolah dasar (SD). Biasanya ditandai dengan anak mendapat kesulitan dalam belajar matematika, membaca, dan terkadang juga tak bisa diam.

Bila masa kritis tersebut terlewat, orang tua tetap dapat merangsang perkembangan anak. Cara-cara yang dapat dilakukan tak jauh berbeda, hanya saja usahanya harus dua kali lebih lebih keras atau bahkan lebih. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

1. Ikatan hati
Orang tua hendaknya banyak melakukan kegiatan bersama, banyak melakukan sentuhan hangat, misalnya dengan memeluk dan mencium. Jangan lupa pula untuk memberikan ungkapan sayang secara nyata dengan kata-kata.
Selain itu orang tua juga harus tetap berupaya memberikan prioritas yang utama kepada anak tersebut. Misalnya, bila si anak sedang sakit, rawatlah dan dampingi dia.

2. Keterampilan motorik
Dalam hal ini yang lebih diutamakan adalah keterampilan motorik kasarnya. Ajaklah anak-anak berolahraga, main bola, lari-lari atau kegiatan lain yang lebih banyak melibatkan aktivitas fisik.

3. Berbicara dan kosakata
Orang tua dapat memulai dengan mendongengkan cerita anak-anak, mengajarkan puisi yang pendek-pendek. Sesekali boleh juga memutarkan kaset dongeng anak-anak. Untuk mengetahui tingkat pemahaman anak, mintalah anak untuk menceritakan kembali dongeng yang telah diceritakan.

4. Matematika dan logika
Untuk langkah awal kenalkan dulu konsepnya. Misalnya, satu kucing, dua kucing, dan seterusnya. Setelah anak paham, tingkatkan pada pemahaman simbolnya, yakni langsung mengetahui bilangan dasar mulai dari 1 sampai 10. Selanjutkan dapat dikembangkan pada konsep lebih banyak dan lebih sedikit, dan seterusnya.

5. Nada
Cobalah untuk mengenalkan beragam irama. Mulailah dengan ketukan yang sederhana, misalnya dengan ketukan kaki, tepukan tangan atau dapat dengan mengenalkan beragam bunyi melalui peralatan rumah tangga. Misalnya, dengan panci, gelas, dan ember.
Kemudian, ajaklah anak untuk bernyanyi atau mendengarkan beragam bunyi alat musik. Lambat laun kepekaannya terhadap nada akan timbul.

6. Bahasa asing
Cobalah untuk mengajak anak-anak berbicara bahasa asing pada waktu-waktu tertentu. Bacakan juga buku cerita yang menggunakan bahasa asing. Sesekali, setelkan kaset yang berisi lagu-lagu atau cerita anak-anak dalam bahasa asing yang belum diterjemahkan.

7. Konsentrasi Belajar
Adanya kebiasaan memaksa anak melewati tahapan-tahapan perkembangan yang seharusnya dilalui juga dapat memberikan dampak yang sama. Misalnya, ada sebagian orang tua yang tidak suka anaknya merangkak di lantai ke sana kemari, sehingga tahapan ini dihindari. Padahal dengan merangkak bayi belajar tentang koordinasi gerak dan konsep ruangan.

Memang belum ada penelitian khusus tentang merangkak ini, tapi seorang psikolog yang telah bertugas selama 18 tahun memiliki pengalaman, anak yang tidak dibiarkan merangkak akan mengalami kesulitan belajar. Kaitannya adalah tidak merangkak menyebabkan tulang punggung anak kurang kuat, sehingga nantinya ia sulit duduk diam lalu mendapat kesulitan berkonsentrasi.

Untuk melakukan koreksi atas kekurangan tersebut, orang tua harus berupaya ekstra keras dan hasilnya pun belum tentu semaksimal saat jendelanya terbuka untuk perkembangan itu. Tentu saja tugas ini cukup memberatkan orang tua, karena pusat perhatian dan minat anak sudah beralih ke tahapan berikutnya.

Selain dengan melakukan upaya tambahan untuk memaksimalkan perkembangan, ada pula terapi yang dapat dilakukan. Misalnya, mengejar perkembangan motorik dapat dilakukan dengan cara latihan mendribel bola basket dalam posisi diam dengan posisi badan tegak (berdiri).

Diharapkan dengan terapi ini, otot punggung anak akan ikut bergerak, berkembang, dan menjadi kuat. Dengan begitu anak dapat duduk diam untuk beberapa waktu dan berkonsentrasi. Atau, untuk anak yang menjelang remaja, terapi meningkatkan konsentrasi dapat dilakukan dengan yoga serta senam tertentu.

Namun, semua itu tak akan berhasil tanpa kedekatan orang tua dengan anak. Bangunlah kedekatan ini dengan komunikasi yang intens antara orang tua dengan anak. Apakah itu melalui pembicaraan dari hati ke hati, santai, dan tidak menggurui, ataukah mengajak mereka bermain bersama, ataupun bernyanyi bersama. Kedekatan orang tua dengan anak akan membuahkan perkembangan emosi yang sehat sebagai landasan bagi kekuatan otak atau perkembangan kecerdasannya.


http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06267-02.htm

Tips Memilih Sekolah Anak



Ketika anak sudah memasuki usia sekolah tidak jarang orang tua kebingungan memilih sekolah untuk buah hatinya. Persoalan-persoalan pun bermunculan seperti masalah biaya, lokasi, lingkungan sekolah dan lain-lain. Ada lagi yang paling utama adalah kebingungan mencari sekolah yang berkualitas dan sesuai dengan buah hatinya.

Berikut ini beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam memilih sekolah buat buah hati kita:

1. Perhatikan out put yang ditargetkan oleh sekolah yang akan dimasukinya misalnya setelah lulus SD anak akan unggul dalam hal sains, bahasa, agama atau apa. Sekolah yang berkualitas mesti menyamakan persepsi target dari out put anak didiknya. Misalnya generasi yang ingin diwujudkan adalah generasi pemimpin umat, hafidz Al Quran, berbakti kepada kedua orang tuanya, beramal shaleh dan memiliki kepribadian Islam. Jangan sampai keliru memasuki lembaga pendidikan yang hanya mengedepankan sains semata.

2. Proses yang dilakukan sesuai dengan target yang diharapkan. Karena banyak lembaga pendidikan yang tidak nyambung antara target out put dengan proses yang dilakukan. Misalnya saja jika menargetkan anak mau melaksanakan sholat secara disiplin maka proses yang dilakukan tidak hanya sekedar mengajari tata cara sholat namun mesti ditanamkan aqidah yang benar sehingga anak memiliki kesadaran untuk melakukan sholat.

3. Lingkungan anak mendukung suksesnya proses tersebut. Jadi mesti konsisten antara yang diajarkan di sekolah dengan apa yang diterapkan di rumah. Jangan sampai tidak nyambung antara materi di sekolah dengan arahan orang tuanya. Misalnya di sekolah ditanamkan sikap jujur tapi di rumah ayahnya mengajari bohong dengan cara mengatakan ayah tidak di rumah kepada tamu yang mencarinya padahal ayahnya ada di ruang belakang.

Birrul walidain (Berbakti kepada orangtua)


Sebagian besar orang tua menginginkan anak-anaknya kelak menjadi anak/orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya (birrul walidain). Namun tidak sedikit apa yang dilakukan oleh orang tua tidak sejalan dengan keinginan tersebut. Hal ini berawal dari kesalah pahaman orang tua akan definisi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Misalnya saja orang tua yang mendefinisikan anak yang berbakti kepada kedua orang tua adalah anak yang senantiasa meringankan pekerjaan orang tuanya seperti menyapu dan mencuci baju.Begitu pula sebagian orang tua memahami anak yang berbakti kepada kedua orang tua adalah anak yang mampu membantu kedua orang tuanya secara ekonomi. Dengan kata lain menjadikan materi sebagai ukurannya.

Padahal sesungguhnya ada yang lebih besar dari pada kedua contoh di atas. Apa yang dibutuhkan oleh orang tua adalah anak yang mampu membantu mengurusi orang tua tatkala orang tuanya sudah lemah secara fisik bahkan mesti dibantu dalam mengurusi dirinya seperti buang kotoran, mandi dan ganti baju. Sudahkah kita menyiapkan anak kita menjadi anak yang siap menghadapi kondisi itu? Bukankah menjadi tua adalah suatu keharusan ketika umur kita panjang?

Lebih dari itu yang mesti ditunggu dari anak kita adalah mereka akan selalu mendoakan dan beramal shaleh untuk kedua orang tuanya ketika orang tuanya sudah meninggal. Lagi-lagi apakah kita sudah menyiapkan anak kita akan melakukan hal itu setelah kita meninggal nanti?

Selasa, 01 Mei 2012

SEHELAI RAMBUT MUAWIYAH



            Alkisah ada seorang guru matematika di sebuah sekolah menengah atas. Ia mengajar di murid-murid kelas 3, atau tahun terakhir. Setelah beberapa bulan mengajar mereka, ia melihat kebanyakan siswanya menyepelekan mata pelajaran matematika bahkan sering mereka tidak serius dalam mengikutinya. Maka dari itu ia ingin memberikan penyadaran keras demi memperbaiki sikap para anak muridnya.
            Waktunya pun tiba, lalu sesat kemudian ia berkata kepada anak muridnya, “Baiklah, keluarkan selembar kertas beserta pulpen, hari ini kita ulangan”. Sontak, para murid pun kaget dan kelas pun seketika langsung terasa gaduh dengan berbagai suara keluhan dan alasan. Lalu seorang siswa yangberbadan besar dan selama ini dikenal sebagai anak yang badung, nakal dan pembuat onar, tiba-tiba bangkit dan berteriak keras, “Pak, pokoknya hari ini kami tidak mau ulangan, titik!”, ujarnya dengan nada mengancam, “Perlu Bapak ketahui ya, dengan persiapan saja kami belum tentu bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar, apalagi tanpa persiapan seperti sekarang ini, Bapak ini bagaimana ?”, tambahnya dengan nada kesal dan sinis.
            Ucapan tersebut membuatsi guru tadi terpancing emosinya, maka dengan keras pula si guru menjawab, “Itu bukan urusan saya. Dan ingat, kalian tidak boleh mengatur saya seenaknya. Pokoknya, hari ini kalian harus ulangan. Dan kalau kamu tidak mau ikut, silakan keluar dari kelas ini” kata guru tersebut kepada muridnya yang nakal. Karena berwatak keras dan Bengal, si siswa itu pun langsung balik mengusir si guru, “Bapak saja yang keluar dari kelas ini”, capnya dengan nada tinggi. Keadaan pun menjadi semakin tegang ketika si guru dengan serta merta bangkit dan berjalan menghampiri si murid sambil terus mencaci makinya. “Dasar, murid tak beradab, tidak berpendidikan … !!” ucapnya berkali kali sampai ia berada tepat di depan si murid tersebut. Dan siswa tersebut pun berdiri dari duduknya. Sesaat kemudian, di antaranya terjadilah sesuatu yang tidak layak untuk diceritakan. Yang pasti peristiwa tersebut sangat memalukan, karena terjadi di dunia pendidikan.
            Yang pasti, kejadian yang memalukan tersebut langsung terdengar oleh Kepala Sekolah. Walhasil, si murid mendapat sanksi keras dan diharuskan menulis pernyataan untuk memperbaiki tingkah lakunya. Sementara si guru, sejak peristiwa tersebut ia sering menjadi bahan pembicaraan yang memalukan di antara sesama guru dan juga di tengah-tengah para siswa di sekolah tersebut. Singkat cerita, karena tidak kerasan dengan keadaan seperti itu, akhirnya ia pun pindah mengajar di sekolah lain.
            Sementara itu, ada guru lain yang juga menghadapi masalah yang serupa murid-muridnya banyak yang tidak serius mengikuti pelajarannya dan cenderung menyepelekannya. Namun, guru yang satu ini menyikapi setiap perbuatan anak muridnya dengan lebih baik atau dengan lebih tepat.
            Alkisah, dia memasuki kelas. Lalu, setelah beberapa saat mempersiapkan beberapa hal, ia pun berkata, “Anak-anak, tolong keluarkan selembar kertas dan pulpen, hari ini kita akan ulangan mendadak.” Dan sebagaimana yang dialami oleh seorang guru pada kisah pertama tadi, guru yang ini juga mendapati salah satu anak muridnya berperangai badung, kasar, nakal, dan sering membuat onar. Begitu mendengar perintah tersebut, si anak murid tersebut lantas berkata, “Jangan seenaknya begitu dong Pak!”.
            Ya, si guru ini memang laksana gunung yang senantiasa sabar menahan bebat orang-orang yang tengah berusaha mendaki ke puncaknya. Dia sangat paham dan menyadari bahwasanya perangai yang keras harusnya tidak dihadapi dengan kekerasan pula. Maka, dia pun hanya tersenyum simpul kea rah muridnyayang badung + nakal tersebut seraya berkata, “Emm, jadi engkau tidak ingin ikut ulangan ini, wahai Khalid?”
            “Tidak!” jawab si murid ketus.
            Jawaban ini ternyata tidak membuat si guru terpancing emosinya. Bahkan ia justru menghadapinya dengan sangat tenang sekali, “Baiklah, tidak apa-apa. Namun, tentu saja yang tidak ikut ulangan akan mendapat sanksi sebagaimana yang telah tercantum dalam tata tertib sekolah,” ujar si guru dengan lembut. Kemudian, si guru itu mulai membacakan satu per satu soal yang harus dikerjakan oleh para siswa. Dan rupanya, si murid pembangkang tadi merasa kesal karena keberatannya tidak diperhatikan. Maka, ia mencoba menghentikan si guru yang tengah membaca soal. Namun, lagi-lagi si guru tersebut tidak terpancing emosinya dengan kelakuan anak muridnya. Bahkan, ia hanya meliriknya, melontarkan senyum padanya, dan kemudian dengan tenang berkata, “Apakah saya memaksamu untuk mengikuti ulangan ini?” . jawaban dari si guru membuat siswa ini tak memiliki alasan lain untuk marah. Akibatnya, tidak ada pilihan lain bagi siswa ini selain terdiam dan kemudian mengeluarkan pulpen dan kertas, lalu ikut menulis soal seperti teman-temannya. Setelah pelajaran selesai, siswa tersebut di panggil ke kantor pembinaan sisw untuk mendapatkan sanksi atas perilakunya yang kurang sopan terhadap gurunya.
            Jelasnya, dapat disimpulkan bahwa dalam merespon ataupun menanggapi kemarahan seseorang haruslah dengan kesabaran dan kelembutan, dan bukan dengan kemarahan yang justru hal itu dapat menimbulkan masalah baru yang lebih rumit dan memperuncing perselisihan yang tengah terjadi. Ini juga merupakan bekal seorang guru ketika ia diperhadapkan dengan suasana kelas seperti di atas. Maka dari itu, jadikanlah sehelai rambut Mu’awiyah sebagai penyambung dan pemelihara hubungan dengan setiap orang.
            Syahdan, suatu hari Mu’awiyah ra. ditanya oleh seseorang seperti ini: “Bagaimana anda bisa memimpin manusia sebagai seorang gubernur selama dua puluh tahun dan kemudian engkau sebagai khalifah selama dua puluh tahun juga?”
            Ia menjawab, “Saya membentangkan di antara diriku dan mereka sehelai rambut, salah satu ujungnya aku pegang dan ujung yang satunya lagi mereka pegang. Kemudian, apabila mereka menariknya kearah mereka maka aku mengendurkan tarikanku, sehingga rambut itu tidak putus. Sebaliknya, bila mereka mengendorkan tarikan mereka maka aku yang mengencangkannya dari arahku.”
            Sungguh benar dan bijak sekali apa yang dikatakannya tersebut ……


PERSAMAAN


SENTIMEN + SENTIMEN = KEHANCURAN


           
           

Template by : kendhin x-template.blogspot.com