Pages

Selasa, 01 Mei 2012

SEHELAI RAMBUT MUAWIYAH



            Alkisah ada seorang guru matematika di sebuah sekolah menengah atas. Ia mengajar di murid-murid kelas 3, atau tahun terakhir. Setelah beberapa bulan mengajar mereka, ia melihat kebanyakan siswanya menyepelekan mata pelajaran matematika bahkan sering mereka tidak serius dalam mengikutinya. Maka dari itu ia ingin memberikan penyadaran keras demi memperbaiki sikap para anak muridnya.
            Waktunya pun tiba, lalu sesat kemudian ia berkata kepada anak muridnya, “Baiklah, keluarkan selembar kertas beserta pulpen, hari ini kita ulangan”. Sontak, para murid pun kaget dan kelas pun seketika langsung terasa gaduh dengan berbagai suara keluhan dan alasan. Lalu seorang siswa yangberbadan besar dan selama ini dikenal sebagai anak yang badung, nakal dan pembuat onar, tiba-tiba bangkit dan berteriak keras, “Pak, pokoknya hari ini kami tidak mau ulangan, titik!”, ujarnya dengan nada mengancam, “Perlu Bapak ketahui ya, dengan persiapan saja kami belum tentu bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar, apalagi tanpa persiapan seperti sekarang ini, Bapak ini bagaimana ?”, tambahnya dengan nada kesal dan sinis.
            Ucapan tersebut membuatsi guru tadi terpancing emosinya, maka dengan keras pula si guru menjawab, “Itu bukan urusan saya. Dan ingat, kalian tidak boleh mengatur saya seenaknya. Pokoknya, hari ini kalian harus ulangan. Dan kalau kamu tidak mau ikut, silakan keluar dari kelas ini” kata guru tersebut kepada muridnya yang nakal. Karena berwatak keras dan Bengal, si siswa itu pun langsung balik mengusir si guru, “Bapak saja yang keluar dari kelas ini”, capnya dengan nada tinggi. Keadaan pun menjadi semakin tegang ketika si guru dengan serta merta bangkit dan berjalan menghampiri si murid sambil terus mencaci makinya. “Dasar, murid tak beradab, tidak berpendidikan … !!” ucapnya berkali kali sampai ia berada tepat di depan si murid tersebut. Dan siswa tersebut pun berdiri dari duduknya. Sesaat kemudian, di antaranya terjadilah sesuatu yang tidak layak untuk diceritakan. Yang pasti peristiwa tersebut sangat memalukan, karena terjadi di dunia pendidikan.
            Yang pasti, kejadian yang memalukan tersebut langsung terdengar oleh Kepala Sekolah. Walhasil, si murid mendapat sanksi keras dan diharuskan menulis pernyataan untuk memperbaiki tingkah lakunya. Sementara si guru, sejak peristiwa tersebut ia sering menjadi bahan pembicaraan yang memalukan di antara sesama guru dan juga di tengah-tengah para siswa di sekolah tersebut. Singkat cerita, karena tidak kerasan dengan keadaan seperti itu, akhirnya ia pun pindah mengajar di sekolah lain.
            Sementara itu, ada guru lain yang juga menghadapi masalah yang serupa murid-muridnya banyak yang tidak serius mengikuti pelajarannya dan cenderung menyepelekannya. Namun, guru yang satu ini menyikapi setiap perbuatan anak muridnya dengan lebih baik atau dengan lebih tepat.
            Alkisah, dia memasuki kelas. Lalu, setelah beberapa saat mempersiapkan beberapa hal, ia pun berkata, “Anak-anak, tolong keluarkan selembar kertas dan pulpen, hari ini kita akan ulangan mendadak.” Dan sebagaimana yang dialami oleh seorang guru pada kisah pertama tadi, guru yang ini juga mendapati salah satu anak muridnya berperangai badung, kasar, nakal, dan sering membuat onar. Begitu mendengar perintah tersebut, si anak murid tersebut lantas berkata, “Jangan seenaknya begitu dong Pak!”.
            Ya, si guru ini memang laksana gunung yang senantiasa sabar menahan bebat orang-orang yang tengah berusaha mendaki ke puncaknya. Dia sangat paham dan menyadari bahwasanya perangai yang keras harusnya tidak dihadapi dengan kekerasan pula. Maka, dia pun hanya tersenyum simpul kea rah muridnyayang badung + nakal tersebut seraya berkata, “Emm, jadi engkau tidak ingin ikut ulangan ini, wahai Khalid?”
            “Tidak!” jawab si murid ketus.
            Jawaban ini ternyata tidak membuat si guru terpancing emosinya. Bahkan ia justru menghadapinya dengan sangat tenang sekali, “Baiklah, tidak apa-apa. Namun, tentu saja yang tidak ikut ulangan akan mendapat sanksi sebagaimana yang telah tercantum dalam tata tertib sekolah,” ujar si guru dengan lembut. Kemudian, si guru itu mulai membacakan satu per satu soal yang harus dikerjakan oleh para siswa. Dan rupanya, si murid pembangkang tadi merasa kesal karena keberatannya tidak diperhatikan. Maka, ia mencoba menghentikan si guru yang tengah membaca soal. Namun, lagi-lagi si guru tersebut tidak terpancing emosinya dengan kelakuan anak muridnya. Bahkan, ia hanya meliriknya, melontarkan senyum padanya, dan kemudian dengan tenang berkata, “Apakah saya memaksamu untuk mengikuti ulangan ini?” . jawaban dari si guru membuat siswa ini tak memiliki alasan lain untuk marah. Akibatnya, tidak ada pilihan lain bagi siswa ini selain terdiam dan kemudian mengeluarkan pulpen dan kertas, lalu ikut menulis soal seperti teman-temannya. Setelah pelajaran selesai, siswa tersebut di panggil ke kantor pembinaan sisw untuk mendapatkan sanksi atas perilakunya yang kurang sopan terhadap gurunya.
            Jelasnya, dapat disimpulkan bahwa dalam merespon ataupun menanggapi kemarahan seseorang haruslah dengan kesabaran dan kelembutan, dan bukan dengan kemarahan yang justru hal itu dapat menimbulkan masalah baru yang lebih rumit dan memperuncing perselisihan yang tengah terjadi. Ini juga merupakan bekal seorang guru ketika ia diperhadapkan dengan suasana kelas seperti di atas. Maka dari itu, jadikanlah sehelai rambut Mu’awiyah sebagai penyambung dan pemelihara hubungan dengan setiap orang.
            Syahdan, suatu hari Mu’awiyah ra. ditanya oleh seseorang seperti ini: “Bagaimana anda bisa memimpin manusia sebagai seorang gubernur selama dua puluh tahun dan kemudian engkau sebagai khalifah selama dua puluh tahun juga?”
            Ia menjawab, “Saya membentangkan di antara diriku dan mereka sehelai rambut, salah satu ujungnya aku pegang dan ujung yang satunya lagi mereka pegang. Kemudian, apabila mereka menariknya kearah mereka maka aku mengendurkan tarikanku, sehingga rambut itu tidak putus. Sebaliknya, bila mereka mengendorkan tarikan mereka maka aku yang mengencangkannya dari arahku.”
            Sungguh benar dan bijak sekali apa yang dikatakannya tersebut ……


PERSAMAAN


SENTIMEN + SENTIMEN = KEHANCURAN


           
           

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com