Alkisah ada seorang guru matematika di sebuah sekolah menengah atas. Ia mengajar di
murid-murid kelas 3, atau tahun terakhir. Setelah beberapa bulan mengajar
mereka, ia melihat kebanyakan siswanya menyepelekan mata pelajaran matematika
bahkan sering mereka tidak serius dalam mengikutinya. Maka dari itu ia ingin
memberikan penyadaran keras demi memperbaiki sikap para anak muridnya.
Waktunya
pun tiba, lalu sesat kemudian ia berkata kepada anak muridnya, “Baiklah,
keluarkan selembar kertas beserta pulpen, hari ini kita ulangan”. Sontak, para
murid pun kaget dan kelas pun seketika langsung terasa gaduh dengan berbagai
suara keluhan dan alasan. Lalu seorang siswa yangberbadan besar dan selama ini
dikenal sebagai anak yang badung, nakal dan pembuat onar, tiba-tiba bangkit dan
berteriak keras, “Pak, pokoknya hari ini kami tidak mau ulangan, titik!”,
ujarnya dengan nada mengancam, “Perlu Bapak ketahui ya, dengan persiapan saja
kami belum tentu bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar, apalagi tanpa
persiapan seperti sekarang ini, Bapak ini bagaimana ?”, tambahnya dengan nada
kesal dan sinis.
Ucapan
tersebut membuatsi guru tadi terpancing emosinya, maka dengan keras pula si
guru menjawab, “Itu bukan urusan saya. Dan ingat, kalian tidak boleh mengatur
saya seenaknya. Pokoknya, hari ini kalian harus ulangan. Dan kalau kamu tidak
mau ikut, silakan keluar dari kelas ini” kata guru tersebut kepada muridnya
yang nakal. Karena berwatak keras dan Bengal, si siswa itu pun langsung balik
mengusir si guru, “Bapak saja yang keluar dari kelas ini”, capnya dengan nada
tinggi. Keadaan pun menjadi semakin tegang ketika si guru dengan serta merta
bangkit dan berjalan menghampiri si murid sambil terus mencaci makinya. “Dasar,
murid tak beradab, tidak berpendidikan … !!” ucapnya berkali kali sampai ia
berada tepat di depan si murid tersebut. Dan siswa tersebut pun berdiri dari
duduknya. Sesaat kemudian, di antaranya terjadilah sesuatu yang tidak layak
untuk diceritakan. Yang pasti peristiwa tersebut sangat memalukan, karena
terjadi di dunia pendidikan.
Yang
pasti, kejadian yang memalukan tersebut langsung terdengar oleh Kepala Sekolah.
Walhasil, si murid mendapat sanksi keras dan diharuskan menulis pernyataan
untuk memperbaiki tingkah lakunya. Sementara si guru, sejak peristiwa tersebut
ia sering menjadi bahan pembicaraan yang memalukan di antara sesama guru dan juga di tengah-tengah para siswa di
sekolah tersebut. Singkat cerita, karena tidak kerasan dengan keadaan seperti
itu, akhirnya ia pun pindah mengajar di sekolah lain.
Sementara
itu, ada guru lain yang juga menghadapi masalah yang serupa murid-muridnya
banyak yang tidak serius mengikuti pelajarannya dan cenderung menyepelekannya.
Namun, guru yang satu ini menyikapi setiap perbuatan anak muridnya dengan lebih
baik atau dengan lebih tepat.
Alkisah,
dia memasuki kelas. Lalu, setelah beberapa saat mempersiapkan beberapa hal, ia
pun berkata, “Anak-anak, tolong keluarkan selembar kertas dan pulpen, hari ini
kita akan ulangan mendadak.” Dan sebagaimana yang dialami oleh seorang guru
pada kisah pertama tadi,
guru yang ini juga mendapati salah satu anak muridnya berperangai badung, kasar, nakal, dan
sering membuat onar. Begitu mendengar perintah tersebut, si anak murid tersebut
lantas berkata, “Jangan seenaknya begitu dong Pak!”.
Ya,
si guru ini memang laksana gunung yang senantiasa sabar menahan bebat
orang-orang yang tengah berusaha mendaki ke puncaknya. Dia sangat paham dan
menyadari bahwasanya perangai yang keras harusnya tidak dihadapi dengan
kekerasan pula. Maka, dia pun hanya tersenyum simpul kea rah muridnyayang
badung + nakal tersebut seraya berkata, “Emm, jadi engkau tidak ingin ikut
ulangan ini, wahai Khalid?”
“Tidak!”
jawab si murid ketus.
Jawaban
ini ternyata tidak membuat si guru terpancing emosinya. Bahkan ia justru
menghadapinya dengan sangat tenang sekali, “Baiklah, tidak apa-apa. Namun,
tentu saja yang tidak ikut ulangan akan mendapat sanksi sebagaimana yang telah
tercantum dalam tata tertib sekolah,” ujar si guru dengan lembut. Kemudian, si
guru itu mulai membacakan satu per satu soal yang harus dikerjakan oleh para
siswa. Dan rupanya, si murid pembangkang tadi merasa kesal karena keberatannya
tidak diperhatikan. Maka, ia mencoba menghentikan si guru yang tengah membaca
soal. Namun, lagi-lagi si guru tersebut tidak terpancing emosinya dengan
kelakuan anak muridnya. Bahkan, ia hanya meliriknya, melontarkan senyum
padanya, dan kemudian dengan tenang berkata, “Apakah saya memaksamu untuk
mengikuti ulangan ini?” . jawaban dari si guru membuat siswa ini tak memiliki
alasan lain untuk marah. Akibatnya, tidak ada pilihan lain bagi siswa ini
selain terdiam dan kemudian mengeluarkan pulpen dan kertas, lalu ikut menulis
soal seperti teman-temannya. Setelah pelajaran selesai, siswa tersebut di
panggil ke kantor pembinaan sisw untuk mendapatkan sanksi atas perilakunya yang kurang sopan
terhadap gurunya.
Jelasnya,
dapat disimpulkan bahwa dalam merespon ataupun menanggapi kemarahan seseorang
haruslah dengan kesabaran dan kelembutan, dan bukan dengan kemarahan yang
justru hal itu dapat menimbulkan masalah baru yang lebih rumit dan memperuncing
perselisihan yang tengah terjadi. Ini juga merupakan bekal seorang guru ketika
ia diperhadapkan dengan suasana kelas seperti di atas. Maka dari itu,
jadikanlah sehelai rambut Mu’awiyah sebagai penyambung dan pemelihara hubungan
dengan setiap orang.
Syahdan,
suatu hari Mu’awiyah ra. ditanya oleh seseorang seperti ini: “Bagaimana anda
bisa memimpin manusia sebagai seorang gubernur selama dua puluh tahun dan kemudian engkau sebagai khalifah selama
dua puluh tahun juga?”
Ia
menjawab, “Saya membentangkan di antara diriku dan mereka sehelai rambut, salah
satu ujungnya aku pegang dan ujung yang satunya lagi mereka pegang. Kemudian, apabila mereka
menariknya kearah mereka maka aku mengendurkan tarikanku, sehingga rambut itu
tidak putus. Sebaliknya, bila mereka mengendorkan tarikan mereka maka aku yang
mengencangkannya dari arahku.”
Sungguh
benar dan bijak sekali apa yang dikatakannya tersebut ……


0 komentar:
Posting Komentar